Ada masa-masa ketika hidup terasa seperti senja yang kehilangan warna—temaram, rapuh, dan mudah runtuh oleh hal kecil yang tak kita duga. Pada hari-hari seperti itu, cinta dalam keluarga tidak pernah menuntut kita untuk tampil kuat di hadapan satu sama lain. Ia tidak meminta dada yang selalu tegap, senyum yang selalu siap, atau hati yang selalu sanggup menerima beban baru. Tidak. Cinta dalam keluarga hanya meminta satu hal: tetap ada. Tetap tinggal, meski suara di dalam dada gemetar. Tetap memeluk, meski tangan sendiri sedang mencari pegangan. Tetap percaya, meski dunia terlihat buram.
Dan ketika hari-hari terasa berat, cinta dalam keluarga tidak pernah meminta kita menjadi kuat sepanjang waktu; ia hanya meminta kita untuk tetap ada—untuk tidak menyerah pada jarak, pada marah, pada sepi yang datang tanpa permisi. Keluarga adalah perjalanan yang dipilih setiap hari, bahkan ketika langkah terasa melewati hujan. Sebuah perjalanan yang kadang membuat kita menunduk, kadang membuat kita berlari, namun selalu membuat kita pulang.
Sebab keluarga adalah tempat di mana jiwa belajar tentang makna keberanian yang paling sunyi: keberanian untuk saling mengakui luka, saling menampung air mata, dan saling menyembuhkan tanpa banyak bicara. Dalam ruang itu, seorang suami bukan hanya penjaga, tetapi peneduh yang mencoba, dengan segala keterbatasannya, menjaga api kecil di rumahnya agar tidak padam. Seorang istri bukan hanya pendamping, tetapi cahaya yang menenangkan langkah, yang menghaluskan kerasnya dunia dengan sentuhan sederhana namun mengubah segalanya. Dan anak-anak—mereka adalah puisi yang dikirim langit, yang mengajarkan bahwa cinta tidak pernah mati; ia hanya berubah bentuk menjadi tawa, pertanyaan polos, dan mimpi-mimpi kecil yang ingin diwujudkan bersama.
Keluarga tidak selalu sempurna. Kadang terasa retak, kadang terasa jauh. Namun justru di situlah keindahan sejatinya—ia menuntut kita untuk terus memilih, terus mempertahankan, terus menenun cinta dengan benang-benang kesabaran dan keikhlasan. Dan pada akhirnya, ketika badai sudah reda, kita akan menyadari satu hal: bahwa bertahan satu sama lain adalah bentuk cinta paling lembut yang pernah diciptakan Tuhan.







