Cahaya yang tampak memikat dari kejauhan, namun sebenarnya hanya bayangan dari keinginan yang tidak pernah benar-benar memberi kedamaian. Ada cahaya yang berkilau tetapi kosong, ada yang bersinar tetapi menyilaukan, dan ada pula yang memanggil kita hanya untuk membawa hati menjauh dari jati diri.
Dalam perjalanan hidup, kita sering mengejar cahaya-cahaya semu—pengakuan, ambisi, perhatian yang tidak tulus, atau kebahagiaan instan yang rapuh. Kita berjalan tanpa sadar bahwa terang yang kita kejar justru membuat kita kehilangan arah, kehilangan tenang, bahkan kehilangan diri sendiri. Karena tidak semua yang bersinar itu memandu; sebagian justru menuntun kita ke persimpangan yang membuat hati patah dan runtuh.
Dan betapa seringnya manusia menyadari kesalahannya saat sudah terlalu jauh—ketika langkah kembali terasa berat, ketika hati mulai rindu pada sesuatu yang dulu dianggap biasa, ketika kesunyian menjadi satu-satunya teman yang setia. Pada saat itu, kita mulai memahami bahwa cahaya sejati bukanlah yang memaksa kita mengejar, tetapi yang membuat kita merasa aman untuk berhenti.
Cahaya sejati itu tidak menyilaukan. Ia lembut, hangat, dan hadir tanpa banyak bicara. Cahaya yang tidak menuntut kita menjadi siapa-siapa, tidak menekan, tidak menghakimi, dan tidak berubah meski dunia menguji perubahan demi perubahan.
Dan jika kita mau melihat lebih dalam lagi, cahaya itu sebenarnya telah lama ada… di tempat yang paling dekat, paling sederhana, namun sering kita abaikan: cinta dalam keluarga.
Cinta keluarga adalah cahaya yang tidak pernah menyesatkan—karena ia menerangi tanpa memaksa, menghangatkan tanpa membakar, memanggil tanpa mengikat. Di sanalah kita belajar bahwa terang yang paling benar adalah terang yang membawa kita pulang; terang yang membuat hati merasa aman menjadi diri sendiri. Sebab keluarga adalah satu-satunya cahaya yang tidak pernah mengantar kita ke jurang, tetapi selalu menunjukkan jalan untuk kembali pulang.







