ESOK LEBIH BAIK; Renungan akhir dan awal tahun

Detik demi detik, jam demi jam, hari berganti hari, minggu berganti minggu yang menggulirkan bulan-bulan baru telah membawa kita kepada episode kehidupan yang selanjutnya. Satu yang menjadi pertanyaan, apakah episode baru ini akan menghadirkan nuansa berbeda, atau kembali membawa kita kepada sebuah rutinitas “menjemukan” yang mau tidak mau terpaksa harus kita lakoni. Ketika tulisan ini anda baca, kita bita berada dalam 3 nuansa berbeda yang memberikan makna yang sama, pergantian tahun. Tahun 2008 ke 2009 masehi, tahun 1429 ke 1430 Hijriyah dan tahun baru Imlek 2560. Setiap pergantian tahun berarti bertambah hitungan umur, akan tetapi mengurah “jatah’ untuk berkiprah lebih banyak lagi dalam kehidupan. Ya.... karena pada hakekatnya, semakin bertambah umur, semakin “tua” kita, dan semakin dekat kita untuk menghadapa kepada-Nya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kita selalu melakukan evaluasi. Apakah tahun-tahun yang telah berlalu memberikan nilai positif atau malah sebaliknya. Kita juga menyusun program-program yang akan kita laksanakan untuk tahun-tahun selanjutnya.

1. Apakah kita diciptakan untuk gagal?

Delapan puluh persen penduduk di muka bumi ini menunggu kesempatan yang datang dan memanggilnya untuk bergerak. Namun hanya sekitar dua puluh persen yang menciptakan kesempatan untuk dirinya sendiri. Hal ini melampaui batas-batas budaya dan geografis, yang sangat menarik untuk diperhatikan dan diterapkan bagi kita semua. Di Indonesia, yang jumlah penganggurannya mencapai angka 20 persen, sampai kapan kita mesti menunggu kesempatan yang memanggil kita ? Tidak ada waktu lagi. Waktu untuk bergerak adalah sekarang juga.

Dibandingkan dengan di negara-negara maju, seperti AS dan Kanada, mendirikan perusahaan sangatlah ribet dan berbelit-belit, begitu banyak izin yang perlu diambil. Contohnya yang paling sederhana adalah membuka salon potong rambut. Di Indonesia, hampir setiap kota dan desa ditemui banyak sekali salon potong rambut. Izin apa yang diperlukan untuk membuka salon tersebut? Tidak ada sama sekali. Cukup punya gunting dan tempat duduk serta cermin. Bahkan di bawah pohon rindang pun bisa saja.

Bandingkan dengan di AS. Di setiap negara bagiannya ada yang disebut Cosmetology Licensing Bureau. Biro ini mensyaratkan setiap orang yang hendak membuka salon untuk membawa ijazah dan transkrip kursus pelatihan salon yang biasanya sepanjang 6 bulan sampai 1 tahun. Setelah itu, ia harus mengikuti ujian negara bagian teori dan praktik. Setelah itu barulah bisa mengajukan permohonan untuk mendapatkan izin untuk membuka salon.

Setelah mendapatkan izin salon, barulah bisa mengajukan izin usaha. Prosesnya sendiri memakan waktu satu sampai dua tahun dari sejak pelatihan sampai mendapatkan izin usaha dan siap untuk menerima klien. Setelah salon dibuka, jelas ada isyu-isyu lainnya seperti inspeksi mendadak dari Badan Kesehatan untuk memastikan bahwa alat-alat cukur yang dipakai bersih dan sesuai standar. Sangat ribet dan berbelit-belit, bukan ? Ini baru untuk bisnis ringan yang di Indonesia bisa dilakukan di bawah pohon rindang. Anda bisa bayangkan untuk bisnis-bisnis lainnya yang jauh lebih sophisticated.

Sangat berbeda dengan di Indonesia, yang dengan sekejap mata sudah bisa memulai bisnis dengan proses yang sederhana saja. Mungkin ini pula mengapa banyak perantau asal Indonesia yang "ogah" mendirikan perusahaan sendiri, lebih baik menunggu saja kesempatan untuk mengetuk pintunya. Di Indonesia, juga demikian. Mayoritas lebih baik pasif (alias terus melamar pekerjaan yang tidak tahu prospeknya di kemudian hari) daripada membangun usaha sendiri yang dalam satu atau dua tahun sudah menghasilkan jauh melebihi karyawan baru tahun kedua.

Orang sukses bukan tidak pernah gagal, melainkan mereka tidak pernah menyerah. Sikap tersebut memerlukan mentalitas yang gigih. Kegigihan adalah salah satu unsur kehidupan yang sangat penting bagi kita. Sebagian besar orang-orang yang sukses memiliki mental seperti itu. Sebagai contoh, Laksamana Peary baru berhasil mencapai Kutub Utara setelah berupaya 8 kali. Sementara Thomas Alfa Edison melakukan eksperimen lebih dari 1.000 kali sebelum berhasil menemukan bola lampu dan 1.000 paten terbanyak sepanjang masa. John Creasey ditolak 743 kali oleh penerbitnya, sebelum berhasil menerbitkan 560 judul buku, yang telah terjual lebih 60 juta kopi. Begitupun yang terjadi pada Albert Einstein, Abraham Lincoln, dan lain sebagainya. Mereka tidak memiliki kelebihan khusus kecuali kegigihan.

Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya. Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat finansial yang diharapkannya. Hal ini pernah terjadi dengan seorang kepala regional sales yang performance-nya bagus sekali. Tetapi, hasilnya ini membuat atasannya tidak suka. Akibatnya, justru dengan sengaja atasannya yang kurang suka kepadanya memindahkannya ke daerah yang lebih parah kondisinya. Tetapi, bukannya mengeluh seperti rekan sebelumnya di daerah tersebut. Malahan, ia berusaha membangun network, mengubah cara kerja, dan membereskan organisasi. Di tahun kedua di daerah tersebut, justru tempatnya berhasil masuk dalam daerah tiga top sales.

Contoh lain adalah novelis dunia Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Pada musim dingin, ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin dingin, lantai penuh kotoran seinci tebalnya, dan kerja paksa tiap hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun, Siberia yang beku tidak berhasil membungkam kreativitasnya. Dari sanalah ia melahirkan karya-karya tulis besar, seperti The Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia. Hal ini juga dialami Ho Chi Minh. Orang Vietnam yang biasa dipanggil Paman Ho ini harus meringkuk dalam penjara. Tapi, penjara tidaklah membuat dirinya patah arang. Ia berjuang dengan puisi-puisi yang ia tulis; dimana A Comrade Paper Blanket menjadi buah karya kondangnya.

Ada sebuah cerita, Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya. Namun, apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak korek api kosong lalu dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu ? Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak korek api saja! Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.

Ini yang terjadi. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api. Ia mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu sehingga ia mulai ragu akan kemampuannya sendiri. Ia mulai berpikir, "Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya segini." Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api. Aman. ia tidak membentur. Saat itulah dia menjadi sangat yakin, "Nah benar kan ? Kemampuan saya memang Cuma segini. Inilah saya !" Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih terus merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak korek api. Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang sesungguhnya tidak tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh lingkungannya.

Sesungguhnya di dalam diri kita juga banyak kotak korek api. Misalnya Anda memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan memadai. Dia tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya, sehingga dia sengaja menghambat perkembangan karir kita. Ketika anda mencoba melompat tinggi, dia tidak pernah memuji, bahkan justru tersinggung. Dia adalah contoh kotak korek api yang bisa mengkerdilkan anda. Teman kerja juga bisa jadi kotak korek api. Coba ingat, ketika dia Bicara begini, "Ngapain sih kamu kerja keras seperti itu, kamu nggak bakalan dipromosikan, kok." Ingat ! Mereka adalah kotak korek api. Mereka bisa menghambat perkembangan potensi diri Anda. Korek api juga bisa berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna, Tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagianya. Bila semua itu menjadi kotak korek api maka akan menghambat prestasi dan kemampuan anda yang sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas sehari-hari.

2. Keluar dari cangkang untuk sukses

Seorang terman pernah menceritakan kepada saya, Suatu hari dia bertemu dengan ahli kelautan yang kemudian bertanya kepadanya, "apakah anda mengetahui bagaimana seekor udah galah (lobster) mampu untuk tumbuh bertambah besar meskipun ia memiliki cangkang yang keras ?" dia baru menyadari bahwa dia tidak pernah memikirkan hal tersebut. Bagaimana mungkin seekor udah galah dengan kulit yang begitu keras dapat tumbuh. Namun dilain pihak tidak mungkin sejak ditelurkan mereka langsung menjadi besar. Jadi, bagaimana caranya ?

Satu-satunya cara, menurut penjelasan ahli tersebut bagi seekor udang Galah untuk tumbuh adalah dengan melepaskan kulitnya dalam periode tertentu. Ketika tubuhnya mulai dirasakan sesak berada dalam cangkangnya, karena pertumbuhan tubuh mereka, lobster tersebut berusaha untuk mencari daerah yang dianggapnya aman untuk beristirahat. Kemudian baru mereka melepas kulit atau cangkangnya, lalu lapisan merah muda yang berada di dalam cangkang yang lama akan tumbuh kemudian mengeras sampai pada ukuran yang lebih nyaman bagi mereka. Namun dalam proses tersebut sebelum cangkang yang baru terbentuk, mereka berada dalam resiko yang luar biasa. Karena tanpa cangkang tersebut, tubuhnya sangat lemah dari serangan luar karena seperti kita ketahui tubuh udang sangatlah lunak, sehingga mereka dapat dengan mudah untuk mati terlempar ke batu-batuan atau dimakan oleh hewan lainnya. Dengan kata lain lobster tersebut mengambil resiko yang sangat besar untuk tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih besar.

Di dalam hidup ini, terkadang kita juga merasakan hal yang sama; "cangkang" yang kita miliki telah terasa mengungkung. Kita merasa frustasi dan marah karena hidup ini sudah terasa membosankan dan tidak lagi menantang. Namun seringkali kita menipu diri sendiri dengan mengatakan bahwa kita sudah merasa nyaman dengan keadaan saat ini. Untuk apa lagi berubah? Kita membohongi diri kita dan tetap melakukan hal-hal yang sebenarnya kita benci dan terkungkung dalam cangkang kita. Sampai akhirnya perubahan tersebut sudah terlambat, baru kita menyadari dan mengatakan "mengapa saya tidak berubah dari dulu".

Sebagian dari kita sengaja melakukan penipuan tersebut untuk memperoleh kenyamanan sementara. Paling tidak kita merasa aman untuk sementara. Tidak akan terjadi sesuatu pada kita, begitu kita berusaha untuk meyakinkan diri. Sebagian dari kita lebih beruntung, meskipun kita tahu untuk sementara Kita akan kehilangan kenyamanan, kita lihat ada bahaya di masa datang, namun kita sadar kita akan mati sesak di masa datang kalau tidak berubah. Seperti udang tadi ! Jadi, saat kita merasa `cangkang' kehidupan kita sudah `sesak', berubahlah, sebelum segalanya terlambat.

3. Gagal ... siapa takut?

"Ayo Iwan, bangkit lagi donk sayang ….." kata seorang ibu yang sedang mengajarkan berjalan kepada putranya yang berusia satu tahun. Anda pun, saya yakin pernah mengalami proses belajar berjalan tersebut, hingga hari ini anda bisa berjalan, berlari, melompat-lompat, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Ingatlah kembali proses belajar berjalan tersebut, berapa kalikah anda terguling ? Pasti, puluhan, hingga ratusan kali mungkin. Anda pada waktu masih kecil, walau otak sadar anda belum bisa berpikir secara logis, tapi otak bawah sadar anda terus belajar dan belajar, bagaimanakah proses mulai dari merangkak, berdiri, berjalan langkah demi langkah dari satu tempat ke tempat lain. Setiap kali anda terguling, otak bawah sadar anda akan merekam, bahwa terguling itu adalah proses dari cara berdiri yang salah, sehingga tanpa sadar anda akan mencoba dengan cara yang lain. Dan, bantuan dari pihak ketiga seperti orang tua anda, akan semakin mempercepat proses belajar tersebut. Dari kepolosan kita sebagai seorang anak, dimana kita belum mengerti apa itu gagal dan sukses, setiap kegagalan akan dianggap sebagai suatu proses untuk belajar mencari mana yang terbaik.

Saat anda mulai beranjak dewasa, andapun sering mengalami proses belajar dari kegagalan dalam bentuk yang lain. Ingat pada waktu anda belajar berenang, atau belajar naik sepeda ? Jarang sekali orang yang saat belajar berenang tidak pernah kemasukan air di hidungnya, atau mungkin terjatuh pada waktu belajar naik sepeda pertama kali. Tapi karena tekad anda begitu besar, akhirnya melalui berbagai proses jatuh bangun dan sebagainya, anda bisa menjadi seorang yang cukup mahir berenang atau bersepeda.

Jika melihat dari contoh-contoh yang mungkin pernah kita alami tadi, sebenarnya kita sudah pernah berkali-kali belajar dari kegagalan mulai dari kita kecil. Pertanyaannya adalah, bagaimana dengan hidup anda saat ini ? Apakah anda masih tetap mempertahankan prinsip belajar dari kegagalan tersebut dalam setiap bidang kehidupan, ataukah mungkin kini anda seringkali menyerah, dan anda akan mengeluarkan berbagai alasan untuk menunjukkan bagaimana hambatan yang ada menghimpit hidup anda ?

4. Keberanian yang dapat mengubah kehidupan

Setiap hari kita mempunyai peluang yang menguntungkan, entah itu dalam skala kecil maupun besar. Bila kita cukup berani, maka peluang-peluang tersebut akan menjadi keberuntungan yang besar. Sebab keberanian akan menimbulkan aksi yang signifikan. Keberanian adalah suatu sikap untuk berbuat sesuatu dengan tidak terlalu merisaukan kemungkinan-kemungkinan buruk. Aristotle mengatakan bahwa, "The conquering of fear is the beginning of wisdom. Kemampuan menaklukkan rasa takut merupakan awal dari kebijaksanaan. Artinya, orang yang mempunyai keberanian akan mampu bertindak bijaksana tanpa dibayangi ketakutan-ketakutan yang sebenarnya merupakan halusinasi belaka. Orang-orang yang mempunyai keberanian akan sanggup menghidupkan mimpi-mimpi dan mengubah kehidupan pribadi sekaligus orang-orang di sekitarnya.

Beberapa abad yang silam Virgil mengatakan, "Fortune favors the bold. Keberuntungan menyukai keberanian." Marilah kita belajar dari para tokoh olah raga yang mempunyai prestasi berskala internasional, yaitu Carl Lewis, Michael Jordan, Marilyn King dan lain sebagainya. Mereka mempunyai keberanian yang tinggi untuk menepis segala kekhawatiran akan keterbatasan dalam diri mereka. Karena itulah mereka mampu berprestasi di bidang olah raga dan tampil sebagai tokoh yang berkarakter. Kita juga mempunyai peluang yang sama besar di bidang yang sama ataupun di bidang lain, misalnya di bidang seni, politik, bisnis, ilmu pengetahuan, filsafat dan lain sebagainya. Tetapi apakah kita sudah mempunyai cukup keberanian menangkap peluang yang datang setiap hari itu dan mengubahnya menjadi prestasi hidup ?

Bila potensi anda yang sesungguhnya ingin muncul, anda harus TAKE ACTION untuk menembus kotak korek api itu. Lihatlah Ucok Baba, dengan tinggi tubuh yang di bawah rata-rata ia mampu menjadi presenter di televisi. Andapun pasti kenal Helen Keller. Dengan mata yang buta, tuli dan "gagu" dia mampu lulus dari Harvard University. Bill Gates tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu menjadi "raja" komputer. Contoh lain mantan Meneg BUMN, Bapak Sugiharto, yang pernah menjadi seorang pengasong, tukang parkir dan kuli di Pelabuhan. Kemiskinan tidak menghambatnya untuk terus maju. Bahkan sebelum menjadi menteri beliau pernah menjadi eksekutif di salah satu perusahaan ternama. Begitu pula dengan Nelson Mandela. Ia menjadi presiden Afrika Selatan setelah usianya lewat 65 tahun. Kolonel Sanders sukses membangun jaringan restoran fast food ketika usianya sudah lebih dari 62 tahun.

Nah, bila anda masih terkungkung dengan kotak korek api, pada Hakekatnya anda masih terjajah. Orang-orang seperti Ucok Baba, Helen Keller, Andre Wongso, Sugiharto, Bill Gates dan Nelson Mandela adalah orang yang mampu menembus kungkungan kotak korek api. Merekalah contoh sosok orang yang merdeka, sehingga mampu menembus berbagai keterbatasan.

5. Bagaimana menciptakan kesempatan?

Menciptakan kesempatan memang kedengarannya sangatlah riskan, namun sebenarnya ini hanyalah salah satu bentuk survival skill yang dimiliki setiap orang. Jennie S. Bev mengajarkan strategi-strategi yang dapat menuntun kita menemukan kesempatan-kesempatan langka dalam kehidupan kita. Mulailah dengan tahap-tahap berikut ini, niscaya Anda bisa menjadi lebih berani dalam melihat kebutuhan yang urgen serta lantas terpacu untuk menciptakan kesempatan bagi diri sendiri

  1. Hitunglah jumlah pengeluaran ideal Anda dalam satu bulan. Masukkan semua pengeluaran, seperti: makanan, sewa atau cicilan rumah tinggal, uang sekolah, pakaian, entertainment, donasi, dll.
  2. Bagi pengeluaran tersebut dengan 30 hari (per bulan). Lantas bagi lagi dengan 10 jam kerja. Anda akan mendapatkan jumlah uang yang perlu Anda hasilkan per jamnya. Misalnya : Kebutuhan per bulan adalah Rp5.000.000, Pengeluaran per hari (rata-rata) adalah Rp 5.000.000,- : 30 hari = Rp166.700,- Penghasilan per jam (asumsi 10 jam kerja) yang diperlukan untuk mencukupi di atas adalah Rp16.700,- untuk asumsi kerja 30 hari per bulan. Jika Anda bekerja 20 atau 25 hari per bulan, gunakan angka yang dimaksud.
  3. Mulailah dari angka ajaib per jam ini. Camkan di dalam benak bahwa Anda tidak bisa mempertahankan gaya hidup jika tidak menghasilkan sekian tersebut. Jadikan ini patokan Anda dalam memilih jenis bisnis dan menjalankannya dengan antusiasme.
Siapa bilang menciptakan kesempatan itu sulit ? Mulai saja dari angka penghasilan per jam dan jalankan dengan blue print ini. Meminjam istilah Jennie, Sukses tidak ditanggung, lho.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan tulis kritik dan saran Anda. Yang membangun ya...!!

Diberdayakan oleh Blogger.

Comments

Recent

About Me

Foto saya
Kita tidak akan mendapatkan hasil berbeda, jika tetap melakukan hal yang sama...

Bottom Ad [Post Page]

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Full width home advertisement