Rasulullah ﷺ terbangun. Malam itu, dalam tidurnya yang penuh keberkahan, beliau bermimpi memasuki Masjidil Haram bersama para sahabat, mengitari Ka’bah dengan khusyuk, mencukur rambut mereka sebagai tanda umrah yang telah sempurna.
Tanpa ragu, lebih dari 1.400 sahabat bersiap berangkat. Mereka mengenakan pakaian ihram, membawa hewan kurban, melangkah dengan hati yang penuh keyakinan. Tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada baju besi yang dikenakan, hanya niat tulus untuk beribadah. Perjalanan terasa ringan karena yang mereka kejar adalah janji Allah.
Namun ketika hampir sampai, kenyataan yang pahit menampar harapan.
Makkah tertutup. Quraisy menghadang mereka di perbatasan, menolak kedatangan mereka seolah-olah mereka adalah musuh, bukan saudara. Jalan menuju Ka’bah seakan berubah menjadi tembok yang kokoh dan tak tergoyahkan. Mereka ingin masuk, ingin bersujud di hadapan Allah, tapi tangan-tangan kufur menghalangi mereka dengan keangkuhan.
Mereka, yang datang dalam keadaan ihram, tanpa senjata untuk bertempur, justru dipaksa untuk bernegosiasi dalam keadaan tertekan. Hati mereka bergemuruh. Bagaimana mungkin mereka harus tunduk pada syarat-syarat yang tampak begitu berat sebelah? Rasulullah ﷺ, dengan penuh ketenangan, menerima ketentuan yang tampak seperti kemunduran. Nama “Rasulullah” yang dituliskan dalam dokumen itu pun diminta untuk dihapus oleh Quraisy, diganti hanya dengan nama “Muhammad bin Abdullah.”
Rasa tidak percaya mulai merayapi dada para sahabat. Bukankah Allah telah menjanjikan ini? Bukankah Rasulullah ﷺ telah melihatnya dalam mimpi? Lalu mengapa kenyataan berkata lain?
Keadaan semakin sulit ketika Rasulullah ﷺ menerima syarat-syarat perjanjian yang terasa begitu merendahkan.
Di antara para sahabat, kegelisahan memuncak. Umar bin Khattab, dengan dada yang bergemuruh, melangkah ke arah Rasulullah ﷺ. Matanya menyala, napasnya berat.
“Wahai Rasulullah, bukankah engkau utusan Allah?” suaranya bergetar.
“Benar,” jawab Rasulullah ﷺ dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.
“Bukankah kita berada di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan?”
“Benar.”
“Lalu mengapa kita merendahkan agama kita? Mengapa kita menerima ini, sementara kita memiliki Allah di pihak kita?”
Umar tidak bisa memahami. Ini di luar ekspektasi mereka.
Namun Rasulullah ﷺ tetap tenang. “Wahai Umar, aku adalah utusan Allah. Aku tidak akan melanggar perintah-Nya, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan aku.”
Umar tidak bisa berkata-kata. Dadanya sesak. Ia tidak meragukan Rasulullah ﷺ, tetapi hatinya berontak.
Sementara itu, para sahabat yang lain hanya bisa menunduk. Tak ada yang berani bersuara, kekecewaan terpatri jelas di wajah mereka.
Namun, saat kegundahan merajai hati, Allah menurunkan firman-Nya:
"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya kebenaran mimpi itu dengan sebenar-benarnya: Kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insyaAllah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan memendekkannya, tanpa merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan Dia memberikan kemenangan yang dekat sebelum itu." (QS. Al-Fath: 27)
Saat wahyu itu turun, dunia terasa berhenti sejenak. Ayat-ayat itu menyusup ke dalam hati mereka, menenangkan kegelisahan yang sebelumnya membakar.
Ternyata, janji itu bukan tertunda, tetapi disiapkan.
Beberapa tahun kemudian, Makkah benar-benar terbuka untuk mereka. Tidak ada perang. Tidak ada pertumpahan darah. Kota suci itu kembali ke tangan kaum Muslim dengan kehormatan yang lebih tinggi dari yang pernah mereka bayangkan.
Janji Allah tidak pernah salah. Kebenaran tidak selalu datang dengan cara yang kita inginkan, tetapi dengan cara yang paling sempurna, yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya.







