Di Jumat sore yang memudar ini, mari kita rasakan keheningan setelah gemuruh sepekan penuh. Kita baru saja melewati lautan berita—kisah tentang janji yang dikhianati, wajah-wajah palsu di balik layar, dan integritas yang runtuh demi kilauan materi. Bukankah hati kita lelah menyaksikan kepalsuan yang begitu nyata?
Media sosial berteriak, menuntut kesempurnaan dan citra tanpa cela. Di antara konten viral dan pencapaian yang dipamerkan, jiwa kita mencari tempat berlindung. Sekarang, alihkan pandangan dari layar. Lihatlah cermin batin kita.
Kita menyaksikan bagaimana sebuah gelar mulia bisa ternoda oleh kerakusan, dan bagaimana hoaks dengan mudahnya meracuni kebenaran. Rasanya, kita kehilangan arah, meragukan mana yang asli dan mana yang hanya ilusi digital yang dirancang sempurna.
Namun, di tengah puing-puing ilusi itu, ada satu jangkar abadi: Ketulusan hati.
Nilai sejati kita tidak pernah diukur dari seberapa sering kita menjadi trending, melainkan dari seberapa dalam kita menanam kebaikan yang tak terlihat. Biarlah kegembiraan tulus, bukan validasi orang lain, yang memandu setiap langkah.
Biarkan Jumat ini menjadi titik balik emosional kita. Mari membersihkan niat, meneguhkan fondasi kejujuran. Karena sesungguhnya, perbuatan baik yang ditanam diam-diam, tanpa sorot kamera, adalah warisan sejati yang akan bertahan jauh lebih lama daripada tepuk tangan paling riuh di dunia.
True success flows from a sincere heart. Biarlah keikhlasan menjadi mercusuar kita.







